LAHIR di Sumedang, 3 September 1947, Iwan Abdulrachman mulai mencipta lagu sejak usia 17 tahun, 1964. Persahabatannya dengan alam sebagai seorang kelana menjadi tema utama lagu-lagunya yang liris dan puitis. Buku ini menyajikan cerita dan makna di balik lagu-lagu Abah Iwan—demikian dia sering disapa—yang digubah hingga usia 61 tahun.
Menurut Abah, selama ini manusia cenderung banyak bicara dan ingin didengarkan tapi sukar sekali menjadi pendengar yang baik. Kita seolah telah kehilangan hakikat sebagai seorang manusia yang tidak toleran terhadap perbedaan dan berubah menjadi makhluk tanpa empati. Lewat lagu-lagunya, Abah mengajak kita kembali belajar menyimak segala isyarat lirih dan kelembutan alam.
“Mari mengamati sinar mentari pagi. Mari mendengar gemercik air yang mengalir, burung berkicau, dan embusan angin yang menyelinap di antara dedaunan. Alam seolah sedang berbicara dengan hatinya yang suci. Jadikanlah alam sebagai gurumu,” ujar Abah.
Mentari Sang Kelana merupakan kisah tentang seorang kelana yang hatinya penuh rasa cinta pada alam dan manusia. Lagu-lagunya bukan sekadar untuk menghibur, melainkan untuk menyegarkan jiwa-jiwa yang mulai kering.